KABARBANGSA- Bupati Pandeglang Hj. Raden Dewi Setiani menyampaikan bahwa kehadiran Masjid Kuno Baitul Arsy di Kampung Pasir Angin, Kelurahan Pagerbatu , Kecamatan Majasari merupakan maskot bahwa Pandeglang sangat kaya dengan nilai-nilai religi.
Selain itu, dengan keberadaan Masjid Kuno Baitul Arsy mencerminkan kabupaten Pandeglang menyimpan banyak sejarah keislaman.
“Karena itu, Masjid Kuno Baitul Arsy harus terus dijaga dan dilestarikan sebagai sejarah peradaban Islam,” kata Bupati Dewi.
Seperti diberitakan, sebuah bangunan Masjid dengan usianya ratusan tahun yang lokasinya terletak di Gunung Karang, Kampung Pasir Angin , Kelurahan Pagerbatu, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang menjadi daya tarik bagi pengunjung wisata religi.
Bangunan tersebut dikenal dengan sebutan Masjid Kuno atau Masjid Baitul Arsy. Masjid ini dikenal sebagai salah satu peninggalan sejarah Islam tua di daerah tersebut.
Selain materialnya masih asli terbuat dari kayu pada bagian tiang dan pintunya juga Masjid Kuno itu lebih dulu ada sebelum warga sekitar tinggal di daerah tersebut.
Sementara bangunan Masjid Kuno itu memiliki ukuran panjang sekitar 12 meter dan lebar 8 meter.
Hingga sekarang bangunan masjid tersebut masih utuh, dan bahkan bagian tiangnya masih tampak asli. Namun warga sekitar kehilangan sejarah , sehingga tidak mengetahui secara pasti kapan masjid itu berdiri dan siapa tokoh ulama atau syeikh yang pertama kali mendirikan masjid tersebut.
Karena kehilangan jejak sejarah atau silsilah , maka warga menyebut masjid itu adalah masjid kuno.
Dikutip KabarBangsa.com dari berbagai sumber menyebutkan bahwa masjid tersebut berdiri sebelum zaman penjajahan Belanda. Bahkan sejak zaman Belanda masjid itu menjadi tempat perkumpulan para wali, tokoh pejuang, ulama dan rakyat.
Sekelumit cerita itu diyakini warga, karena sampai sekarang pada bagian tiang kayu itu terdapat bekas peluru yang diduga bekas serangan peluru tentara Belanda.
Selain itu sebagian warga ada yang menyebutkan bahwa bahwa Masjid Kuno itu merupakan Masjid Syeikh Karan, ulama besar pada masa Kesultanan Banten.
Bangunan Masjid Kuno menyerupai surau seperti zaman kerajaan Islam, dan bangunan Masjid tersebut ini tepat menghadap ke arah Gunung Karang , Kabupaten Pandeglang.
Pada Masjid Kuno ini terdapat pintu samping (kiri-kanan) dan satu pintu masuk bagian depan. Di atap masjid terdapat kubah yang terbuat dari kayu, dan tiang-tiang masjid yang natural atau asli di masanya masih tampak kokoh dan kuat. Termasuk umpak atau pondasi bawah masjid juga terbuat dari kayu.
Sedangkan pada bagian depan masjid tempat imam masih terlihat utuh, termasuk benda kuno seperti bedug dan tongtong di luar masjid masih tampak bagus.
Selain itu, di samping kanan masjid juga terdapat sumber mata air yang mengalir yang diyakini tak pernah kering atau habis.
Menurut cerita warga, keanehan Masjid Kuno tersebut muncul saat warga hendak merehab bagian tiangnya.
Setelah tiang masjid diganti dengan kayu baru, entah bagaimana , tiba-tiba pagi harinya tiang kayu tersebut kembali ke semula (ke bangunan aslinya). Dari keajaiban itulah, warga akhirnya melestarikan dan merawat masjid tersebut.
Anggota DPRD Banten asal daerah pemilihan Pandeglang Hadi Mawardi merasa bangga dan terharu dengan bangunan Masjid kuno yang menyimpan nilai religi sangat kuat.
“Keberadaan Masjid ini harus terus dijaga dan dilestarikan karena bagian dari peninggalan sejarah Islam. Ini bagian dari kekayaan Pandeglang yang menyimpan sejarah Islam. Ini juga bagian dari nilai-nilai religi yang harus dilestarikan,” ujar Hadi. ***







