KABARBANGSA– Kehadiran Masjid Kuno Baitul Arsy di Gunung Karang, Kampung Pasir Angin, Kelurahan Pagerbatu, Kecamatan Majasari, Pandeglang menjadi simbol bahwa Pandeglang banyak menyimpan jejak sejarah Islam.
Karena itu, saat ini para pencinta jejak sejarah Islam dari luar Pandeglang dan Banten banyak mengunjungi masjid tersebut.
Salah seorang Imam Masjid Kuno Baitul Arsy, Ustaz Mursanudin menyampaikan bahwa hampir setiap malam banyak para pencinta sejarah Islam dan pengunjung singgah ke Masjid ini.
Selain ingin melihat keaslian bangunannya, mereka juga menyempatkan salat di Masjid Baitul Asry.
” Para pengunjung juga menyempatkan berwudhu , bebersih dengan air jernih dari mata air yang tak kunjung habis di sebelah pintu kanan masjid. Bahkan kemurnian air di masjid ini tidak kalah kejernihanya dengan air mineral,” kata Ustaz Mursanudin.
Ia menyebut para pengunjung yang datang ke Masjid ini berasal dari Jakarta , Cirebon, Bogor dan Bandung.
Kehadiran para pengunjung di lokasi disambut dengan sejuknya udara dan alam pegunungan. Tak hanya itu , di sekitar jalan menuju Masjid juga banyak kuliner lokal, jajanan yang siap menjamu para pengunjung.
Seperti diberitakan, sebuah masjid berusia ratusan tahun yang berdiri kokoh di kawasan Gunung Karang, tepatnya di Kampung Pasir Angin, Kelurahan Pagerbatu, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, menjadi salah satu destinasi wisata religi yang menarik perhatian banyak pengunjung.
Bangunan bersejarah tersebut dikenal masyarakat sebagai Masjid Kuno Baitul Arsy, salah satu peninggalan Islam tertua yang masih bertahan di wilayah Pandeglang. Keberadaannya bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menyimpan jejak panjang perjalanan sejarah dan dakwah Islam di Banten.
Keunikan masjid ini terlihat dari material bangunannya yang sebagian besar masih asli. Tiang-tiang utama dan pintu masjid masih terbuat dari kayu tua yang tetap kokoh hingga saat ini. Bahkan, menurut cerita warga setempat, masjid tersebut sudah berdiri jauh sebelum permukiman warga berkembang di kawasan Pasir Angin.
Masjid yang telah berusia sangat tua, bangunan ini masih terawat dengan baik dan mempertahankan bentuk aslinya. Namun, seiring berjalannya waktu, masyarakat kehilangan jejak sejarah mengenai tahun pasti pendiriannya maupun sosok ulama atau syekh yang pertama kali membangun masjid tersebut.
Karena minimnya catatan dan silsilah sejarah yang tersisa, masyarakat kemudian lebih mengenalnya dengan sebutan Masjid Kuno Pasir Angin.
Dikutip KabarBangsa.com dari berbagai sumber, masjid ini diyakini telah berdiri jauh sebelum masa penjajahan Belanda. Pada masa itu, masjid disebut-sebut menjadi tempat berkumpulnya para wali, ulama, tokoh pejuang, serta masyarakat yang berjuang mempertahankan tanah air dan syiar Islam.
Keyakinan tersebut diperkuat oleh adanya bekas lubang peluru pada salah satu tiang kayu masjid yang hingga kini masih terlihat. Bekas tersebut dipercaya sebagai jejak serangan tentara Belanda pada masa penjajahan.
Sebagian warga juga meyakini bahwa masjid ini memiliki keterkaitan dengan Syekh Karan, seorang ulama besar yang hidup pada masa Kesultanan Banten. Meski belum ditemukan bukti sejarah yang pasti, cerita tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Dari segi arsitektur, bangunan Masjid Baitul Arsy menyerupai surau atau masjid pada masa kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Posisi bangunannya menghadap langsung ke arah Gunung Karang yang menjulang megah di Kabupaten Pandeglang.
Masjid ini memiliki dua pintu samping di sisi kiri dan kanan serta satu pintu utama di bagian depan. Pada bagian atap terdapat kubah kayu yang menjadi ciri khas bangunan tradisional. Tiang-tiang kayu asli yang menopang bangunan masih tampak kuat dan kokoh meski telah melewati berbagai zaman. Bahkan umpak atau pondasi penyangga masjid juga masih menggunakan material kayu.
Di bagian depan, area tempat imam memimpin salat masih terjaga keasliannya. Berbagai benda bersejarah seperti bedug dan tongtong yang berada di luar masjid juga masih tersimpan dengan baik.
Tak jauh dari bangunan utama, terdapat sumber mata air yang mengalir sepanjang waktu. Warga meyakini mata air tersebut tidak pernah kering meski musim kemarau panjang melanda.
Selain menyimpan sejarah panjang, Masjid Baitul Arsy juga lekat dengan kisah-kisah yang dianggap penuh keajaiban. Salah satu cerita yang paling dikenal masyarakat adalah ketika warga berusaha mengganti salah satu tiang kayu masjid yang sudah tua.
Menurut penuturan warga, setelah tiang lama diganti dengan kayu baru, keesokan harinya tiang tersebut secara misterius kembali seperti semula. Peristiwa yang sulit dijelaskan itu kemudian diyakini sebagai pertanda agar keaslian masjid tetap dipertahankan.
Sejak saat itu, warga memilih untuk merawat dan melestarikan bangunan tanpa mengubah bagian-bagian pentingnya.
Anggota DPRD Provinsi Banten dari daerah pemilihan Pandeglang, Hadi Mawardi, mengaku bangga dan terharu melihat keberadaan Masjid Baitul Arsy yang masih berdiri kokoh hingga sekarang.
“Keberadaan masjid ini harus terus dijaga dan dilestarikan karena merupakan bagian dari peninggalan sejarah Islam. Ini adalah kekayaan Pandeglang yang menyimpan jejak peradaban Islam serta nilai-nilai religius yang sangat penting untuk diwariskan kepada generasi mendatang,” ujar Hadi.
Masjid Baitul Arsy bukan sekadar bangunan tua, melainkan saksi perjalanan dakwah Islam di Banten yang hingga kini terus menginspirasi masyarakat untuk menjaga warisan sejarah, budaya, dan nilai-nilai keagamaan yang terkandung di dalamnya. ***







